Wanita LDII Jatim Perkuat Ekosistem Perlindungan Anak
Ning Lia Tekankan Peran Keluarga dan Komunitas

Jatim detik – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Timur, Ir. KH. Moch. Amrodji Konawi, MT., mengapresiasi peran perempuan dalam memperkuat ekosistem perlindungan anak. Upaya tersebut dinilai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari keluarga, komunitas, hingga pemerintah.
Hal tersebut disampaikan Amrodji dalam kegiatan yang digagas Wanita LDII Jawa Timur. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat komitmen bersama untuk melindungi anak dari berbagai persoalan, seperti perundungan dan pengaruh negatif media sosial.
Amrodji menegaskan, semangat pembangunan Jawa Timur yang unggul, maju, dan berkelanjutan perlu didukung oleh peran aktif perempuan dalam menyiapkan generasi penerus bangsa.
Ia juga mengapresiasi sinergi antara Wanita LDII Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, termasuk Dinas Komunikasi dan Informatika serta perangkat daerah yang menangani pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi langkah penting dalam membangun lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak.
Sementara itu, Anggota DPD RI, Lia Istifhama, yang akrab disapa Ning Lia, menekankan bahwa perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada satu keluarga. Diperlukan ekosistem yang melibatkan berbagai unsur agar upaya mendidik dan melindungi anak dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Ketika kita berbicara tentang ekosistem, berarti kita tidak bisa berjalan sendirian,” ujar Ning Lia.
Ia menjelaskan, terdapat tiga pilar penting dalam ekosistem perlindungan anak, yakni keluarga, komunitas, dan kolaborasi berbagai pihak. Keluarga menjadi lingkungan pertama dalam membentuk karakter anak, sedangkan komunitas dan pemangku kepentingan lainnya berperan memperkuat perlindungan tersebut.
Ning Lia juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha, dalam menggunakan media sosial. Menurutnya, media sosial memiliki sisi positif, tetapi juga berpotensi menjadi sarana penyebaran hoaks dan informasi negatif.
Karena itu, pendampingan terhadap anak diperlukan agar mereka mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan memilah informasi yang diterima.
Dia berharap anak-anak di Jawa Timur dapat tumbuh menjadi generasi berkualitas, berkarakter, serta mampu menghadapi tantangan zaman tanpa mudah terpengaruh oleh dampak negatif lingkungan digital.
Dalam kegiatan tersebut, jumlah peserta secara hybrid disebut mencapai 25 ribu orang. Partisipasi ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat keterlibatan perempuan dalam membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya perlindungan anak.
Melalui kolaborasi keluarga, komunitas, organisasi masyarakat, dan pemerintah, upaya perlindungan anak diharapkan dapat berjalan secara berkelanjutan demi menyiapkan generasi penerus bangsa yang tangguh. (ris)



